ABUYA

Minggu, 01 Mei 2016

“Barang siapa yang menginginkan dunia, hendaknya ia menguasai ilmu; barang siapa yang menginginkan akhirat ,hendaknya ia menguasai ilmu;dan barang siapa yang menginginkan keduanya, hendaknya ia menguasai ilmu juga.”

Abuya Dimyati Al-bantani
“Barang siapa yang menginginkan dunia,
hendaknya ia menguasai ilmu; barang siapa yang
menginginkan akhirat ,hendaknya ia menguasai
ilmu;dan barang siapa yang menginginkan keduanya, hendaknya ia menguasai ilmu
juga.” (al-Hadis) KH. Muhammad Dimyathi yang biasa dipanggil
dengan Abuya Dimyathi atau Mbah Dim
merupakan sosok Ulama Banten yang memiliki
karismatik nan bersahaja. Beliau lahir sekitar
tahun 1925 anak pasangan dari H.Amin dan
Hj.Ruqayah. Sejak kecil Abuya Dimyathi sudah menampakan kecerdasannya dan keshalihannya,
beliau belajar dari satu pesantren ke pesantren
lainnya mullai dari Pesantren Cadasari,
kadupeseng Pandeglang, ke Plamunan hingga ke
Pleret Cirebon. Semasa hidupnya, Abuya Dimyathi
dikenal sebagai gurunya dari para guru dan kiainya dari para kiai, sehingga tak berlebihan
kalau disebut sebagai tipe ulama Khas al-Khas.
Masyarakat Banten menjuluki beliau juga sebagai
pakunya daerah Banten, di samping sebagai
pakunya negara Indonesia. Di balik kemasyhuran
nama Abuya, beliau adalah orang yang sederhana dan bersahaja. Kalau melihat wajah beliau terasa
ada perasaan ‘adem’ dan tenteram di hati orang
yang melihatnya. Abuya Dimyathi dikenal sosok ulama yang cukup
sempurna dalam menjalankan perintah agama,
beliau bukan saja mengajarkan dalam ilmu
syari’ah tetapi juga menjalankan kehidupan
dengan pendekatan tasawuf, tarekat yang
dianutnya tarekat Naqsabandiyyah Qodiriyyah. Maka wajar jika dalam perilaku sehari-hari beliau
penuh tawadhu’, istiqamah, zuhud, dan ikhlas.
Abuya adalah seorang qurra’ dengan lidah yang
fasih. Wiridan al-Qur’an sudah istiqamah lebih dari
40 tahun. Kalau shalat tarawih di bulan puasa,
tidak turun untuk sahur kecuali setelah mengkhatamkan al-Qur’an dalam shalat. Oleh
karenanya, tidak salah jika kemudian kita
mengkategorikan Abuya sebagai Ulama
multidimensi. Dibanding dengan ulama kebanyakan, Abuya
Dimyathi ini menempuh jalan spiritual yang unik.
Beliau secara tegas menyeru: “Thariqah aing mah
ngaji!” (Jalan saya adalah ngaji). Sebab, tinggi
rendahnya derajat keualamaan seseorang bisa
dilihat dari bagaimana ia memberi penghargaan terhadap ilmu. Sebagaimana yang termaktub
dalam surat al-Mujadilah ayat 11, bahwa Allah
akan meninggikan orang-orang yang beriman
dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan.
Dipertegas lagi dalam hadist nabi, al-Ulama’u
waratsatul anbiya’, para ulama adalah pewaris para nabi. Ngaji sebagai sarana pewarisan ilmu.
Melalui ngaji, sunnah dan keteladanan nabi
diajarkan. Melalui ngaji, tradisi para sahabat dan
tabi’in diwariskan. ilmu adalah suatu keistimewaan
yang menjadikan manusia unggul atas makhluk
lain guna menjalankan fungsi kekhalifahannya.Saking pentingnya ngaji dan
belajar, satu hal yang sering disampaikan dan
diingatkan Mbah Dim adalah: “Jangan sampai ngaji
ditinggalkan karena kesibukan lain atau karena
umur”. Pesan ini sering diulang-ulang, seolah-olah
Mbah Dim ingin memberikan tekanan khusus; jangan sampai ngaji ditinggal meskipun dunia
runtuh seribu kali! Apalagi demi sekedar hajatan
partai.Urusan ngaji ini juga wajib ain hukumnya
bagi putra-putri Mbah Dim untuk mengikutinya.
Bahkan, ngaji tidak akan dimulai, fasal-fasal tidak
akan dibuka, kecuali semua putra-putrinya hadir di dalam majlis.
Menelusuri kehidupan ulama Banten ini seperti
melihat warna-warni dunia sufistik. Perjalanan
spiritualnya dengan beberapa guru sufi seperti
Kiai Dalhar Watucongol. Perjuangannya yang patut
diteladani. Bagi masyarakat Pandeglang Provinsi Banten Mbah Dim sosok sesepuh yang sulit
tergantikan. Lahir sekitar tahun 1925 dikenal
pribadi bersahaja dan penganut tarekat yang
disegani.Abuya Dimyati juga kesohor sebagai
guru pesantren dan penganjur ajaran Ahlusunah
Wal Jama’ah. Pondoknya di Cidahu, Pandeglang, Banten tidak pernah sepi dari para tamu maupun
pencari ilmu. Bahkan menjadi tempat rujukan
santri, pejabat hingga kiai. Semasa hidupnya,
Abuya Dimyati dikenal sebagai gurunya dari para
guru dan kiainya dari para kiai. Bukan saja
mengajarkan ilmu syari’ah tetapi juga menjalankan kehidupan dengan pendekatan
tasawuf. Abuya dikenal sebagai penganut tarekat
Naqsabandiyyah Qodiriyyah.Tidak salah kalau
sampai sekarang telah mempunyai ribuan murid.
Mereka tersebar di seluruh penjuru tanah air
bahkan luar negeri. Sewaktu masih hidup , pesantrennya tidak pernah sepi dari kegiatan
mengaji. Bahkan Mbah Dim mempunyai majelis
khusus yang namanya Majelis Seng. Hal ini diambil
Dijuluki seperti ini karena tiap dinding dari tempat
pengajian sebagian besar terbuat dari seng. Di
tempat ini pula Abuya Dimyati menerima tamu- tamu penting seperti pejabat pemerintah maupun
para petinggi negeri. Majelis Seng inilah yang
kemudian dipakainya untuk pengajian sehari-hari
semenjak kebakaran hingga sampai wafatnya.
Abuya berguru pada ulama-ulama sepuh di tanah
Jawa. Di antaranya Abuya Abdul Chalim, Abuya Muqri Abdul Chamid, Mama Achmad Bakri (Mama
Sempur), Mbah Dalhar Watucongol, Mbah Nawawi
Jejeran Jogja, Mbah Khozin Bendo Pare, Mbah
Baidlowi Lasem, Mbah Rukyat Kaliwungu dan
masih banyak lagi. Kesemua guru-guru beliau
bermuara pada Syech Nawawi al Bantani. Kata Abuya, para kiai sepuh tersebut adalah memiliki
kriteria kekhilafahan atau mursyid sempurna,
setelah Abuya berguru, tak lama kemudian para
kiai sepuh wafat.
Ketika mondok di Watucongol, Abuya sudah
diminta untuk mengajar oleh Mbah Dalhar. Satu kisah unik ketika Abuya datang pertama ke
Watucongol, Mbah Dalhar memberi kabar kepada
santri-santri besok akan datang ‘kitab banyak’.
Dan hal ini terbukti mulai saat masih mondok di
Watucongol sampai di tempat beliau mondok
lainya, hingga sampai Abuya menetap, beliau banyak mengajar dan mengorek kitab-kitab.
Di pondok Bendo, Pare, Abuya lebih di kenal
dengan sebutan ‘Mbah Dim Banten’. Karena,
kewira’i annya di setiap pesantren yang
disinggahinya selalu ada peningkatan santri
mengaji. Dalam setiap perjalanan menuntut ilmu dari
pesantren yang satu ke pesantren yang lain selalu
dengan kegiatan Abuya mengaji dan mengajar.
Hal inipun diterapkan kepada para santri. Dikenal
sebagai ulama yang komplet karena tidak hanya
mampu mengajar kitab tetapi juga dalam ilmu seni kaligrafi atau khat. Dalam seni kaligrafi ini, Abuya
mengajarkan semua jenis kaligrafi seperti khufi,
tsulust, diwani, diwani jally, naskhy dan lain
sebagainya. Selain itu juga sangat mahir dalam
ilmu membaca al Quran.Bagi Abuya hidup adalah
ibadah. Tidak salah kalau KH Dimyati , Kaliwungu, Kendal Jawa Tengah pernah berucap bahwa
belum pernah seorang kiai yang ibadahnya luar
biasa. Menurutnya selama berada di kaliwungu
tidak pernah menyia-nyiakan waktu. Sejak pukul
6 pagi usdah mengajar hingga jam 11.30. setelah
istirahat sejenak selepas Dzuhur langsung mengajar lagi hingga Ashar. Selesai sholat ashar
mengajar lagi hingga Maghrib. Kemudian wirid
hingga Isya. Sehabis itu mengaji lagi hingga pukul:
24 malam. Setelah itu melakukan qiyamul lail
hingga subuh.Di sisi lain ada sebuah kisah
menarik. Ketika bermaksud mengaji di KH Baidlowi, Lasem. Ketika bertemu dengannya,
Abuya malah disuruh pulang. Namun Abuya justru
semakin mengebu-gebu untuk menuntut ilmu.
Sampai akhirnya kiai Khasrtimatik itu menjawab,
“Saya tidak punya ilmu apa-apa.” Sampai pada
satu kesempatan, Abuya Dimyati memohon diwarisi thariqah. KH Baidlowio pun menjawab,”
Mbah Dim, dzikir itu sudah termaktub dalam kitab,
begitu pula dengan selawat, silahkan memuat
sendiri saja, saya tidak bisa apa-apa, karena
tarekat itu adalah sebuah wadzifah yang terdiri
dari dzikir dan selawat.” Jawaban tersebut justru membuat Abuya Dimyati penasaran. Untuk
kesekian kalinya dirinya memohon kepada KH
Baidlowi. Pada akhirnya Kiai Baidlowi menyuruh
Abuya untuk solat istikharah. Setelah
melaksanakan solat tersebut sebanyak tiga kali,
akhirnya Abuya mendatangi KH Baidlowi yang kemudian diijazahi Thariqat Asy Syadziliyah.
Dipenjara Mbah Dalhar Mah Dim dikenal seagai salah satu
orang yang sangat teguh pendiriannya. Sampai-
sampai karena keteguhannya ini pernah dipenjara
pada zaman Orde Baru. Pada tahun 1977 Abuya
sempat difitnah dan dimasukkan ke dalam
penjara. Hal ini disebabkan Abuya sangat berbeda prinsip dengan pemerintah ketika terjadi pemilu
tahun tersebut. Abuya dituduh menghasut dan
anti pemerintah. Abuya pun dijatuhi vonis selama
enam bulan. Namun empat bulan kemudian
Abuya keluar dari penjara.
Ada beberapa kitab yang dikarang oleh Abuya Dimyati. Diantaranya adalah Minhajul Ishthifa. Kitab
ini isinya menguraikan tentang hidzib nashr dan
hidzib ikhfa. Dikarang pada bulan Rajab H 1379/
1959 M. Kemudian kitab Aslul Qodr yang
didalamya khususiyat sahabat saat perang Badr.
Tercatat pula kitab Roshnul Qodr isinya menguraikan tentang hidzib Nasr. Rochbul Qoir I
dan II yang juga sama isinya yaitu menguraikan
tentang hidzib Nasr.Selanjutnya kitab Bahjatul
Qooalaid, Nadzam Tijanud Darori. Kemudian kitab
tentang tarekat yang berjudul Al Hadiyyatul
Jalaliyyah didalamnya membahas tentang tarekat Syadziliyyah. Ada cerita-cerita menarik seputar
Abuya dan pertemuannya dengan para kiai besar.
Disebutkan ketika bertemu dengen Kiai Dalhar
Watucongol Abuya sempat kaget. Hal ini
disebabkan selama 40 hari Abuya tidak pernah
ditanya bahkan dipanggil oleh Kiai Dalhar. Tepat pada hari ke 40 Abuya dipanggil Mbah Dalhar.
“Sampeyan mau jauh-jauh datang ke sini?” tanya
kiai Dalhar. Ditanya begitu Abuya pun menjawab,
“Saya mau mondok mbah.” Kemudian Kiai Dalhar
pun berkata,” Perlu sampeyan ketahui, bahwa
disini tidak ada ilmu, justru ilmu itu sudah ada pada diri sampeyan. Dari pada sampeyan mondok
di sini buang-buang waktu, lebih baik sampeyan
pulang lagi ke Banten, amalkan ilmu yang sudah
ada dan syarahi kitab-kitab karangan mbah-
mbahmu. Karena kitab tersebut masih perlu
diperjelas dan sangat sulit dipahami oleh orang awam.” Mendengar jawaban tersebut Abuya
Dimyati menjawab, ”Tujuan saya ke sini adalah
untuk mengaji, kok saya malah disuruh pulang
lagi? Kalau saya disuruh mengarang kitab, kitab
apa yang mampu saya karang?” Kemudian Kiai
Dalhar memberi saran,”Baiklah, kalau sampeyan mau tetap di sini, saya mohon ajarkanlah ilmu
sampeyan kepada santri-santri yang ada di sini
dan sampeyan jangan punya teman.” Kemudian
Kiai Dalhar memberi ijazah tareqat Syadziliyah
kepada Abuya.Itulah sekelumit keteladanan Mbah
Dimyati dan putra-putrinya, yang sejalan dengan pesan al-Qur’an dalam surat al-Tahrim ayat 6, Qu
anfusakum wa ahlikum naran. Namun, Kini,
waliyullah itu telah pergi meninggalkan kita
semua. Abuya Dimyathi tak akan tergantikan lagi.
Malam Jumat pahing, 3 Oktober 2003 M/07
Sya’ban 1424 H, sekitar pukul 03:00 wib umat Muslim, khususnya warga Nahdlatul Ulama telah
kehilangan salah seorang ulamanya, KH.
Muhammad Dimyati bin KH. Muhammad Amin Al-
Bantani, di Cidahu, Cadasari, Pandeglang, Banten
dalam usia 78 tahun. Padahal, pada hari itu juga,
dilangsungkan acara resepsi pernikahan putranya. Sehingga, Banten ramai akan
pengunjung yang ingin mengikuti acara resepsi
pernikahan, sementara tidak sedikit masyarakat –
pelayat- yang datang ke kediaman Abuya. Inilah
merupakan kekuasaan Allah yang maha
mengatur, menjalankan dua agenda besar, “pernikahan” dan “pemakaman”. Semoga Beliau mendapatkan Tempat yang Mulia
DisisiNYA.Amiin.
Lahu Al Fatihah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar