ABUYA

Senin, 23 Mei 2016

KADANG MISKIN ITU LEBIH NYAMAN


Anakku, kadang miskin itu lebih baik.
Baik bagi dirinya dan baik bagi keluarganya.
Baik bagi dunianya dan baik bagi akheratnya.

Semua orang ingin kaya.
Nyaris tidak ada orang yang ingin miskin permanen, kere abadi.
Walaupun kenyataannya mereka betah menjadi orang miskin.
Walau nyatanya mereka bisa menikmati kemiskinan.
Kadang miskin itu lebih baik dan lebih indah.

Mereka bisa menikmati kehidupan yang sesungguhnya.
Mereka bisa tekun ibadah dan menikmati ibadah.
Mereka bisa istiqomah beramal dan menikmati amal.
Mereka bisa dekat dengan Alloh dan selalu bersama Alloh.
Mereka dapat kebaikan dunia dan kelak dapat kebaikan akherat.
Bukankah miskin seperti itu lebih indah.

Mungkin ada orang ingin kaya, tapi banyak orang kaya celaka.
Sibuk urusan dunia dan melalaikan urusan ibadah.
Terlena dengan kesenangan dunia, lupa akherat, dan lupa Alloh.
Ibadah sekedar ibadah, sekedar menjalankan tugas kewajiban.
Amal sekedar amal, sering pamer, agar dapat pujian manusia.
Semua serba ada, ibadah ingin cepat-cepat, kadang lupa ibadah.
Semua serba tersedia, pintu-pintu maksiat semua terbuka lebar.
Semua mudah didapat, merasa mampu, tidak butuh Alloh lagi.

Makin kaya makin terlena, dosa dianggap biasa, makin jauh Alloh.
Kaya seperti ini, tidak akan mendatangkan kebaikan dunia akherat.
Bukankah miskin lebih indah, daripada kaya seperti ini.

Renungan:
Memang ada, orang yang makin kaya makin bersyukur, makin tekun ibadah, dan makin dekat dengan Alloh. Tapi jumlahnya sedikit sekali. Zaman Rosul saw dahulu ada Saklabah. Dia ingin: makin kaya makin tekun ibadah, nyatanya makin malas ibadah.
(Graha Pencerah Jiwa, Selasa, 24/05/2016, Abah, Sebarkan)


UKM KOTA TANGERANG DI BANTU




Tidak ada komentar:

Posting Komentar